/** Kotak Iklan **/ .kotak_iklan {text-align: center;} .kotak_iklan img {margin: 0px 5px 5px 0px;padding: 5px;text-align: center;border: 1px solid #ddd;} .kotak_iklan img:hover {border: 1px solid #333}

Rabu, 01 Januari 2014

Pengamatan Lutung Budeng di Gunung Bibi oleh KP3 Primata


Lutung Budeng (Trachypithecus auratus) merupakan salah satu primata endemik Indonesia yang berstatus hampir punah. Jenis ini memiliki rambut berwarna hitam ketika dewasa dan berwarna oranye ketika masih bayi. Lutung Budeng termasuk satwa diurnal atau beraktivitas pada siang hari, serta lebih sering berada atas pohon dan jarang turun kelantai hutan.

Salah satu kegiatan rutin KP3 Primata Fakultas Kehutanan UGM yaitu pengangamatan Lutung Budeng. Pengamatan dilakukan tanggal 30-31 Maret 2013 pada pagi sampai siang hari di dua jalur yang berbeda. Lokasi pengamatan disekitar Gunung Bibi yang berada disebelah timur Gunung Merapi dan sebelah selatan jalur pendakian New Selo yang terletak di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah.
Dari hasil pengamatan dilapangan, pada jalur pertama ditemukan satu kawanan yang terdiri dari 12 ekor Lutung Budeng dengan komposisi 2 ekor bayi, 4 ekor juvenil, dan 6 ekor dewasa. Aktivitas yang dilakukan diantaranya yaitu makan, meloncat dari pohon ke pohon, dan berjemur.Sedangkan pada jalur yang kedua tidak ditemukan kawanan Lutung Budeng.





Sabtu, 28 Desember 2013

OPREC



Event di Tahun 2014



Penelitian bersama EKSPEDISI PULAU SEMPU berlokasikan di Malang, Jawa Timur diikuti  sebanyak 42 peserta diantaranya anggota KP3 Kehutanan UGM, tema besar yang kami ambil yaitu Pengaruh Aktivitas Manusia yang sangat bertolak belakang dengan status Cagar Alam di dalam P. Sempu. Beberapa dasar mengapa kami mengambil Lokasi di P. Sempu   diantaranya  Pulau Sempu sangatlah menarik untuk dilakukan penelitian baik dari satwa seperti,  Burung, Herpetofauna, Primata, Mangrove, serta daya tarik Wisata yang sangat menarik perhatian masyarakat Indonesia untuk datang ke pulau tersebut. Sehingga menjadi alasan mengapa kami melakukan penelitian bersama di Pulau tersebut. Seminar hasil penelitian ini akan diselenggarakan di Auditorium Fakultas Kehutanan pada tanggal 25 Maret 2014 yang akan dihadiri oleh beberapa pihak yang terkait yaitu, Dekan FKT UGM, Dosen Pembina, Mahasiswa serta partisipan lain yang mendukung penelitian. Hasil penelitian ini akan menjadi rekomendasi penting bagi pengelolaan Cagar Alam P.Sempu baik dari segi Satwa, Mangrove dan Manusia yang beraktivitas (wisatawan, nelayan) yang sangat mempengaruhi terhadap kelestarian Pulau tersebut. 


Kegiatan ini disponsori oleh : Gembira Loka Zoo, Kedaulatan Rakyat, Harian Yogya, dan Keong Adventure




Acara   KP3 di akhir tahun 2013


Panitia Seminar Konservasi Penyu 




   Gabung bersama kami dan rasakan kekeluargaannya karena kami bukan sekedar pengamat biasa tetapi peneliti dan pemerhati tanpa mengurangi atau merusak rantai ekosistem kehidupan. Anggota KP3 dipilih dari keluarga mahasiswa Fakultas Kehutanan UGM terutama mahasiswa bagian minat KONSERVASI yang memiliki semangat dan  potensi yang sangat tinggi terhadap Ekologi dan Satwa Liar terhadap pengelolaan hutan. sehingga dengan banyaknya anggota KP3 Kehutanan bisa mencapai keinginan para Rimbawan Muda untuk melestarikan alam ini. Semoga untuk kedepannya penelitian hasil karya mahasiswa FKT UGM menjadi lebih kreatif serta lebih maju lagi dalam bidang keilmuannya sehingga memunculkan kebanggan tersendiri bagi Nusa dan Bangsa . 

Jumat, 27 Desember 2013

Struktur Kepengurusan Forestation KSDH Angkatan 2011


Keluarga Besar Mahasiswa Konservasi Sumberdaya Hutan








Ketua Bidang DIvisi Keilmuan dan KP3
Rizky Hidayat



rizkyhidayat@ymaiL.com




KOORDINATOR KP3 PRIMATA
Farid S Widagdo




http://facebook.com/faridsw




KOORDINATOR KP3 HERPETOFAUNA
Fikri Al-Mubarok


http://facebook.com/fikri.almubarok




KOORDINATOR KP3 EKOWISATA
Ivi Oktaviani


vivi.bluechocolate@facebook.com





KOORDINATOR KP3 WETLANDS
Roi Bima P


r.premana@facebook.com




KOORDINATOR KP3 BURUNG
Afrizal Maula Alfarisi


afrizal.maulaalfarisi@facebook.com




















KP3 Primata Kepengurusan Sebelumnya

PENGAMATAN PRIMATA "G. BIBI " BOYOLALI


Lutung Budeng (Trachypithecus auratus) merupakan salah satu primata endemik Indonesia yang berstatus hampir punah. Jenis ini memiliki rambut berwarna hitam ketika dewasa dan berwarna oranye ketika masih bayi. Lutung Budeng termasuk satwa diurnal atau beraktivitas pada siang hari, serta lebih sering berada atas pohon dan jarang turun kelantai hutan.

Salah satu kegiatan rutin KP3 Primata Fakultas Kehutanan UGM yaitu pengangamatan Lutung Budeng. Pengamatan dilakukan tanggal 30-31 Maret 2013 pada pagi sampai siang hari di dua jalur yang berbeda. Lokasi pengamatan disekitar Gunung Bibi yang berada disebelah timur Gunung Merapi dan sebelah selatan jalur pendakian New Selo yang terletak di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah.
Dari hasil pengamatan dilapangan, pada jalur pertama ditemukan satu kawanan yang terdiri dari 12 ekor Lutung Budeng dengan komposisi 2 ekor bayi, 4 ekor juvenil, dan 6 ekor dewasa. Aktivitas yang dilakukan diantaranya yaitu makan, meloncat dari pohon ke pohon, dan berjemur.Sedangkan pada jalur yang kedua tidak ditemukan kawanan Lutung Budeng.










Nih hasil Penelitian anak- anak primata looh ...
Pengamatan KP3 Primata




Kalo yang ini para pembicara seminar  monyet ekor panjang tahun 2012 kemaren. 




Kamis, 04 Oktober 2012

KP3 Wetland Kunjungan Ke Pantai Baros Tahun 2012

Kunjungan KP3 Wetlands di Pantai Baros

  Semester genap kemarin, anggota KP3 Wetlands melakukan pengamatan di Barosyang terletak di Desa Tirtoharjo, Pandak, Bantul, Yogyakarta. Salah satu daya tarik kami memilih tempat ini adalah keberadaan “taman” mangrovenya. Alasan penamaan taman dan bukan hutan, karena dari kondisi lokasi yang terlihat, dapat dikatakan tidak cocok untuk disebut sebagai hutan, karena ekosistem disana tidak menunjukkan sebuah ekosistem hutan mangrove.

  Perjalanan kami tempuh ± 1 jam dari kampus. Sesampainya dilokasi, kami disambut oleh Mas Dwi, Ketua Keluarga Pemuda-Pemudi Baros. Keluarga Pemuda-Pemudi Baros atau biasa disingkat dengan KP2B merupakan perkumpulan pemuda-pemudi yang mempunyai tugas untuk mengelola taman mangrove di Baros.

  Dari pemaparan Dwi, kami memperoleh beberapa keterangan tentang Pantai Baros.Taman mangrove di Baros dibangun pada tahun 2003. Pembangunan taman mangrove ini diprakarsai oleh Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) RELUNG, sebuah LSM dari Fakultas Kehutanan UGM. Pengelolaan taman mangrove kemudian diserahkan kepada KP2B pada tahun 2005. Mas Dwi menjelaskan bahwa tujuan awal dari dibangunnya taman Mangrove di Baros adalah untuk melindungi tanaman pertanian yang sering terkena pasang air laut.Sayangnya, banyak kendala yang dihadapi oleh KP2B dalam usaha pembangunan taman mangrove mulai dari susahnya memperoleh bibit yang unggul sehingga menyebabkan kegagalan penanaman, hingga adanya serangan penyakit pada musim-musim tertentu.

  Jenis tanaman mangrove yang ada di Baros bervariasi dengan dominasi Rhizophora sp., Avicennia, Nypa, Soneratia, serta tumbuhan bawah derujon yang merupakan jenis endemik. Pengelolaan Pantai Baros dapat dikatakan berhasil karena telah ditemukannya ikanglodok, salah satu jenis ikan yang hanya bisa ditemui di daerah mangrove. Bentuk pengelolaan yang dilakukan di Pantai Baros meliputi penanaman, sarana wisata, serta dibukanya kesempatan untuk melakukan penelitian. Hasil dari penelitian biasanya diperuntukkan untuk pengelolaan di Baros. Di Baros terdapat pula tambak kepiting, namun yang paling banyak dibudidayakan adalah kepiting soka.

  Pada tahun 2012 silam, pernah diselenggarakan kegiatan penanaman dengan 37.000 bibit. Sayangnya, penanaman gagal karena timing-nya tidak tepat, yaitu di waktu air sedang pasang. Penanaman biasanya dilakukan oleh masyarakat maupun instansi pendidikan dari Taman Kanak-Kanak sampai Perguruan Tinggi, dan pemerintah baru memberikan perhatian kepada masyarakat apabila masyarakat sendiri yang melakukan aksi.Sebelumnya, pemerintah sama sekali tidak memberikan bantuan. Namun, sekarang banyakpihak yang membantu pengelolaan, baik dari pemerintah maupun LSM. “Dari pengelolaan ini, Desa Tirtiharjo mendapat keuntungan mencapai sekitar 240 juta”, jelas Mas Dwi.

  Kendala yang dialami KP2B dalam mengelola hutan mangrove bukan hanya dikarenakan kurangnya sarana prasarana. Justru kendala yang lebih sering menghambatadalah musim, kendala alami yang sulit untuk diatasi. Permasalahan tidak hanya dialami ketika musim hujan, tetapi juga ketika musim kemarau. Saat musim kemarau, lumut menjadi banyak karena air bening dan sinar matahari dapat menembus air. Hal ini mengakibatkanpertumbuhan mangrove tidak bagus. Pernah suatu ketika, lumut sampai menutupi seluruh permukaan Sungai Opak. Kemarau juga membawa akumulasi pasir yang dibawa oleh angin. Musim hujan membawa permasalahan lebih banyak lagi, yaitu pasang yang lebih tinggi.Karena pasang tinggi, pasir terbawa arus dan menutup sungai. Hal ini ditanggulangi dengan mengeruk pasir yang terbawa arus agar tidak terjadi banjir dan air dapat mengalir ke laut. Saat pasang besar, bahkan alat keruk tidak berani masuk karena bahaya yang besar. Pada musim ini yang paling rutin adalah kedatangan banjir.

  Pengelolaan dari segi wisata belum dapat dimaksimalkan, karena tujuan awalpengelolaan taman mangrove ini bukan untuk objek wisata. Namun, untuk kunjungan wisata, KP2B juga menyiapkan sarana perahu dan tempat camping. Seringkali pengunjung yang datang berasal dari kalangan instansi pendidikan. Mereka biasanya melakukan penelitian jenis, seperti penelitian tentang peningkatan jumlah individu dari berbagai spesies flora maupun fauna. Dari hasil penelitian, pengelola memaparkan bahwa jenis yang mengalami pertambahan paling banyak adalah burung. (Nurul_KP3 Wetland)